Sabtu, 19 Mei 2012

Penyesalan Selalu Datang Terlambat

Katanya. Saya mungkin menggunakan judul itu untuk membenarkan kesalahan saya yang terlambat membuat jurnal tentang rasa bersalah. Duh, Farida. Rasa bersalah yang mengiringi laporan jurnal menulis tentang rasa bersalah. Tapi seterlambat apapun, saya tetap ingin menulisnya untuk menebus kesalahan saya.

Saat itu tidak banyak peserta RLWC yang datang menghadiri pertemuan. Hanya ada saya, Andika, Rizal, Dani, dan Mbak Riri. Sisanya tidak datang atau tidak ikut menulis. Di sebelah kami ada Marwan, yang sebelumnya pernah memberikan presentasi tentang pembuatan komik di salah satu sesi RLWC. Dia juga tidak ikut menulis.

Beberapa saat, kami juga kesulitan mencari tema. Hingga saya tiba-tiba teringat tentang sesuatu yang saya baca sebelumnya, tentang rasa bersalah. Rasa bersalah katanya disebabkan oleh nilai yang berbeda antara nilai sosial dengan nilai kita, atau perasaan bahwa kita telah melanggar suatu nilai tertentu. Rasa bersalah bisa membuat orang melakukan apapun untuk menebus rasa bersalah itu.

(termasuk tetap menulis walau sudah terlambat)

Ternyata usulan tema saya diterima oleh peserta lain, dan akhirnya kami menulis tentang rasa bersalah. Beberapa menganggapnya sulit, tapi akhirnya kami kerjakan juga.

Cerita pertama dibacakan oleh Andika. Andika menggunakan gaya khasnya yang cukup memperhatikan detil dan mengalir. Ceritanya dituturkan oleh seorang narator yang menceritakan tentang hubungannya dengan temannya yang berubah sejak dia menemukan kesalahan temannya dalam hal yang sama-sama mereka sukai, menggambar. Cerita ini menimbulkan banyak pertanyaan di peserta lain, dan kami harus memastikan dan bertanya pada Andika tentang isi dari ceritanya. Mungkin karena pembatas setting yang kurang jelas, atau hal lain. Tapi Andika (dengan sabar, ya?) menjelaskan ceritanya. Jujur saya juga belum terlalu yakin apa yang saya simpulkan di sini pun sudah betul isi ceritanya. Andika bisa berkomentar.

Cerita selanjutnya datang dari Rizal. Rizal ternyata menggunakan perasaan pribadinya untuk menulis cerita ini. DIa menulis tentang seseorang yang tidak dapat menghayati ibadah yang dilakukannya, tapi tetap melakukannya demi ibunya, temannya, dan pacarnya. Peserta memuji gaya bahasa Rizal di cerita ini dan berkomentar bahwa rasa bersalahnya dapat terasa di cerita ini. Yang baik untuk disorot mungkin cara Rizal menjelaskan tentang shalat tanpa menyebutkan bahwa itu shalat. Ini salah satu cerita favorit saya darinya.
Kemudian Dani membacakan juga. Dani menceritakan tentang rasa bersalah seorang perempuan yang menjadi simpanan seorang gubernur yang ditembak mati. Dani mengakui ini terinspiras dari All The King's Men, sebuah film.

Selanjutnya Mbak Riri juga membagi rasa bersalahnya, dalam ceritanya tentang hasil audit yang dipalsukan dan bagaimana seseorang bisa berhenti merasa bersalah karena situasi yang mendorongnya. Para peserta tertarik dengan masalah audit ini dan merasa mendapat pengetahuan baru dari cerita Mbak Riri.

Saya sendiri? Saya tadinya ingin menulis sebuah rasa bersalah personal, tapi ternyata saya tidak tega. Saya menulis tentang seorang laki-laki yang mengidap obsessive compulsive disorder karena rasa bersalah pribadinya. Tapi nampaknya ceritanya juga kurang jelas sampai peserta lain tidak mengerti di endingnya. Sudahlah :p

Sekarang rasa bersalah saya sudah sedikit tertebus.
Mohon dimaafkan.



Farida Susanty adalah mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Padjadjaran yang kecanduan siaran televisi berlangganan. Sekonyong-konyong tubuhnya akan terpaku di depan televisi apabila ada film-film seru di channel HBO. Genre film favorit Farida beragam di kisaran indie, teen-flick, drama, dll. Ia sudah menelurkan 4 buah buku yaitu Dan Hujan Pun Berhenti, Karena Kita Tidak Kenal, serta dua antologi. Sekarang ini ia sedang dalam proses menerbitkan buku selanjutnya. Kunjungi blognya http://lovedbywords.tumblr.com/

Rabu, 16 Mei 2012

Kau -- Sudut Pandang Kedua


Jam tiga sore – dari sudut toko buku Reading Lights, kau melihat arus lalu lintas tak sepadat saat kau kemarin pulang. Di depanmu menunggu halaman putih kosong, tetapi matamu tak bisa lepas dari pemandangan di balik jendela. Pohon-pohon berdahan tinggi daunnya bergerak-gerak dihembus angin. Sinar matahari memunculkan beraneka warna hijau. Kau lebih ingin berada di luar daripada apapun. Namun, tidak semua keinginan mesti dituruti, kan? Perhatianmu kembali ke halaman kosong. Mencoba menulis, tetapi tak bisa. Mungkin lebih sulit memulai sesuatu jika dilakukan terlambat. Namun adakah kata terlambat jika sesuatu itu berarti? Kau berhenti mencari alasan. Kau mengingat-ingat lagi apa yang terjadi dalam pertemuan writer's circle dua pekan silam, pertemuan di mana kau bertugas menulis jurnalnya.

Kau ingat, kau datang lebih cepat daripada peserta lainnya. Kau tidak ingat, seperti apa cuaca hari itu. Padahal kau biasa memulai tulisan dengan menggambarkan cuaca. Kau ingat, buku yang kaubaca sambil menunggu yang lain. Wise Children oleh Angela Carter. Indra Permadi tiba beberapa saat setelahmu, mengeluarkan buku Writing Fiction: A Guide to Narrative Craft oleh Janet Burroway. Kalian pun bertukar bacaan. Buku Indra banyak memuat latihan, penjelasan, contoh fiksi yang baik, bahkan naskah fiksi penuh coretan. Ketika kau meminta Indra menjadi fasilitator menulis, laki-laki itu segera mengiyakan.

Belakangan Indra selalu memakai pewangi yang tak kau ingat ia pakai dua tahun silam. Wangi serupa pernah kauendus saat menemani seorang teman berbelanja di gerai The Body Shop. White Musk Sport for Men. (Kau membayangkan reaksi temanmu Dani dan Nia ketika membaca kalimat barusan.) Lalu Dea datang. Kalian terlibat pembicaraan lokal mengenai serunya berkirim kartu pos. Ketika Ririe datang, kalian bergabung dengan Sabiq dan Almer yang telah menyulut rokok di ruang belakang. “Kita mulai sekarang?” tanya Indra. Waktu menunjukkan pukul setengah lima lebih, kau mengangguk. “Atau kita menunggu sebentar lagi?” tawar Indra. “Bagaimana kalau ada yang datang lagi? Menjelaskannya jadi dua kali, kan?” Kau geli. Indra tak menyebut nama, tetapi kaupikir yang dimaksudkannya adalah Dani.

Sore itu, Indra muncul dengan tema dan latihan tentang sudut pandang. Pertama-tama ia menjelaskan macam-macam sudut pandang: orang pertama, orang kedua, dan orang ketiga. Dalam sudut pandang orang pertama, cerita dinarasikan oleh 'aku' atau 'saya', sementara pada sudut pandang orang kedua penulis menempatkan karakternya sebagai 'kau' atau 'kamu', “Seperti dalam surat,” Indra mencontohkan. Lalu ada juga cerita bersudut pandang orang ketiga di mana penulis menempatkan karakternya sebagai 'dia'. “Pada prakteknya sudut pandang ketiga dapat sangat bervariasi, penulis bisa berperan sebagai Tuhan yang menunjukkan isi hati semua karakternya, dan bisa juga tetap fokus pada karakter-karakter tertentu,” jelas Indra. Konon semua sudut pandang ini sama pentingnya. Sebuah cerita lama dapat memiliki rasa baru ketika dituturkan dengan sudut pandang lain. Untuk membuktikannya, Indra meminta setiap peserta menulis dengan sudut pandang yang paling jarang digunakan, “Tulislah cerita menegangkan dengan sudut pandang orang kedua.” Setelah timer dipasang, segenap peserta mulai sibuk dengan alat tulis masing-masing.

***

Andika! Kamu tahu contoh buku yang memakai sudut pandang orang kedua?
Hmm, apa ya? Serial pilih-sendiri-petualanganmu? Biasanya di akhir setiap kejadian, pembaca ditanyai apa tindakan yang mereka pilih selanjutnya. Seingat saya, dalam serial ini pembaca dirujuk sebagai 'kamu'. Oh, ya! The Perks of Being a Wallflower. Novel ini terdiri dari serangkaian surat yang ditulis Charlie, tokoh utama buku ini, kepada orang yang tak dikenalnya. Novel yang terdiri dari surat disebut epistolary novel. Pada pertemuan writer's circle, Indra mencontohkan The Great Gatsby. Saya belum membacanya, tetapi kata Indra tokoh utamanya justru bukan si narator, melainkan si Gatsby. Ketika akhirnya Gatsby mati, si naratorlah yang kemudian memetik pelajaran dari pengalaman hidup Gatsby.

Menurut kamu seberapa penting 'sudut pandang' dalam fiksi?
Penting sekali! Mengubah-ubah sudut pandang adalah salah satu cara menghindari kejemuan ketika menulis sebuah kejadian yang sering kita tulis. Pertemuan writer's circle, misalnya. Saya sendiri lebih suka membaca novel yang sudut pandangnya kaya daripada novel yang latarnya kaya(!). Saya ingat saat pertama kali membaca Biru-nya Fira Basuki. Novel ini memakai sudut pandang orang pertama dengan narator berganti-ganti. Itu membuat Biru begitu lain dan berkesan di mata saya, Semakin lama, saya menemukan semakin banyak buku bersudut pandang menarik. The Accidental-nya Ali Smith bergulir dengan sudut pandang dari setiap anggota suatu keluarga dan semuanya menggunakan stream of consciousness. Memoar Dave Eggers selincah senam dalam memainkan sudut pandang orang pertamanya. Karakter anjing dalam Two Caravans-nya Marina Lewycka dapat 'berbicara' dan berperan penting dalam penuturan cerita. Kamu punya judul lain?

Saya? Awal tahun ini saya menamatkan Freedom-nya Jonathan Franzen. Buku itu nyaris setebal empat senti, tetapi tidak sekalipun saya bosan membacanya. Saya percaya rahasianya terletak pada variasi penuturan Franzen. Saya pernah membaca di sebuah surat kabar Inggris Jonathan Franzen dan beberapa penulis lainnya berbagi 'aturan menulis' mereka kepada para penulis pemula. Salah satu aturan Franzen: 'Selalu gunakan sudut pandang orang ketiga, kecuali sudut pandang orang pertamamu berbeda dan ia terus memaksa muncul.'
Hm, saya setuju untuk alasan saya sendiri. Jujur saya paling tidak sabar jika membaca cerita bersudut pandang orang pertama di mana tokohnya laki-laki; dan konflik utamanya bagaimana ia mendapatkan hati perempuan yang disukainya. Dengan sudut pandang orang pertama, saya sulit menempatkan diri di posisi kedua tokoh itu.

***

Sesi membaca pun dimulai dengan berakhirnya sesi menulis selama setengah jam. Kau menawarkan diri membaca pertama. Tulisanmu menceritakan 'kamu', seorang remaja laki-laki yang menulis surat berisi rahasia tentang dirinya. Surat itu diselipkan ke dalam tas ayahnya pagi-pagi sebelum beliau pergi kerja. Ketegangan lantas dirasakan remaja itu sepanjang hari, di sekolah, di angkutan kota, sebelum nantinya ia mesti pulang dan menghadapi kedua orang tuanya. Dea berkomentar tulisanmu bagus, tetapi seperti tak ada hubungan antara narator dengan tokoh utama. Dan berhubung cerita belum selesai, Almer menanyakan akhirannya. “Sudut pandang yang digunakan sudut pandang orang kedua, narator tidak masuk dalam cerita,” Indra menyimpulkan. “Nah, apa Bung Andika merasa ceritanya cocok dengan sudut pandang ini?” Kala itu jawabanmu untuk Almer dan Indra “Belum tahu,” dan “Tidak!” Kini kau tahu bagaimana cerita akan berakhir, serta bagaimana sudut pandang orang kedua dapat membantu mengakhirinya.

Tulisan Indra berkisah tentang percakapan telepon sepasang laki-laki dan perempuan. Awalnya si laki-laki menceritakan detil tentang kecelakaan yang disaksikannya di jalan. Namun lama-lama percakapan memanas – si perempuan seperti kesal, dan si laki-laki mencoba menenangkannya dengan cara yang salah. (“Kamu sedang menstruasi, ya?” tanya si laki-laki. “Kalau bukan sama aku, nanti kamu cerita sama siapa?” tanyanya lagi.) Berhubung Indra hanya menulis ucapan si tokoh laki-laki, peserta writer's circle yang lain jadi membayangkan apa yang kiranya diucapkan si tokoh perempuan. Indra menggunakan sudut pandang orang kedua di mana naratornya ikut menjadi karakter. Kau setuju ceritanya cocok menggunakan sudut pandang ini, tetapi kau percaya topik percakapan teleponnya bisa lebih menegangkan.

Ini bagian sulit, kau sungguh lupa Dani menulis apa. (“Tulisan gua gagal,” ujarnya sebelum membaca.) Di writer's circle, kalian terbiasa mendengar tulisan Dani tentang perang, militer, cinta, maupun cerita fiksi ilmiah. Kalau tidak salah, tulisannya sejenis monolog seseorang yang kehilangan kekasihnya. Ia menulis tema ini dari waktu ke waktu. Kau yakin tulisannya tidak akan terlalu gagal. Jika Dani mengatakan demikian, besar kemungkinan itu demi menurunkan ekspektasi.

Tulisan Dea pendek dan mengejutkan, judulnya 'Rahasia.' Seingatmu begini tulisannya:
MALIIIIING!
Iya kamu!
Ayo mengaku! Kamu maling, kan?
Sudah jangan banyak bicara! Kamu telah mencuri!
Kamu mencuri baca tulisan ini.

Semua geli mendengar pembacaan Dea. Tulisannya seperti apa yang biasa dituliskan di halaman pertama buku harian anak-anak. Kau mulai memahami keunggulan sudut pandang orang kedua dibandingkan sudut pandang yang lainnya. Sudut pandang ini membuat pembaca merasa dilibatkan ke dalam tulisan – seperti diajak bicara. Hal yang sama juga ditemukan dalam tulisan Ririe yang berjudul ‘Cue Cards’. Berikut cuplikannya:

Point A
Hi! Kamu baru saja menemukan Point A. Silahkan matikan GPS-mu sekarang untuk menghemat baterai, masukkan dalam dry bag yang tersedia, dan bawalah bersamamu. Bersama cue card ini, kamu akan menemukan sebuah dayung. Di ujung jalan ini ada sebuah perahu kayak, ikuti aliran sungai hingga ke hilir. Saat melihat pelampung dengan bendera hijau, menepilah dan tambatkan perahu di pilar yang tersedia. Petunjuk menuju point B ada disana. Hati-hati ya!

Kata ganti 'kamu' dalam sudut pandang orang kedua dalam cerita Dea dan Ririe tak terbatas hanya tertuju pada satu tokoh, tetapi juga bisa pada entah berapa banyak pembaca.

Di sisi lain, ‘kamu’ dalam tulisan Sabiq dan Almer tertuju pada satu orang saja. Cerita Sabiq adalah surat untuk seorang pahlawan-penyelamat-kota. Meskipun tak menyebut nama, Sabiq memberikan banyak petunjuk mengenai identitas si pahlawan. Salah satunya bahwa ia fotografer. “Spiderman, ya?” tebak Almer. Sabiq mengiyakan. Meskipun tulisan ini menarik, Indra menunjuk kurangnya konsistensi Sabiq dengan sudut pandang yang digunakan. Di beberapa bagian, tulisannya memberi informasi terlalu banyak, seakan penulis adalah Tuhan yang tahu semua. Padahal pada awalnya tulisan itu dimaksudkan sebagai surat. Saran Indra, sebaiknya Sabiq memilih antara menulis dengan sudut pandang terfokus, atau sejak awal menulis dengan sudut pandang penulis-tahu-semua.

Almer menuturkan kisah sentimentil tentang dua orang teman yang melarikan diri setelah merampok bank. Di mobil, salah satu di antara mereka mengajak berbicara yang lain – memaki-maki, menyesali kebodohan yang lain, meratap, serta mengenang masa lalu.  Namun semua itu tidak dijawab, karena yang diajak bicara sudah tak sadarkan diri karena tertembak. “Sudut pandang orang kedua, narator termasuk ke dalam cerita,” ujar Indra. Seperti yang sudah-sudah, Almer lancar dalam mengungkapkan ceritanya. Kalimatnya sederhana dan minim kesan dibuat-buat. Sekalipun ke depannya ia tak ikut writer’s circle, kau berharap akan membaca lebih banyak lagi tulisannya.

***
Andika! Setelah tiga hari akhirnya kamu menyelesaikan jurnal ini! Kamu memulai pada sore cerah di Reading Lights dan berakhir pada sore hujan di rumahmu. Bagaimana perasaanmu saat ini?
Capek. Tidak yakin saya sudah melakukan hal yang betul.

Apa yang membuatmu tidak yakin?
Saya menulis menggunakan sudut pandang orang kedua dengan alasan yang mungkin tidak jelas. Saat pertemuan writer’s circle, Indra, Dea, Dani, Ririe, Sabiq, dan Almer punya alasan yang jelas menggunakan sudut pandang itu. Indra karena tokohnya sedang melakukan percakapan via telepon. Dea, Ririe, dan Sabiq karena tak berhadapan langsung dengan yang diajak bicara. Lalu Almer karena yang diajak bicara tak bisa menjawab. Setelah pertemuan writer’s circle berakhir, saya baru menyadari bahwa sudut pandang ini juga bisa dipakai menggambarkan percakapan dengan diri sendiri.

Coba jelaskan.
Kadang-kadang saya suka bercakap-cakap dengan diri saya sendiri. Seperti yang kita lakukan sekarang. Ada kalanya saya ingin bercerita, tetapi sedang sendirian – saat itulah saya berbincang dengan diri sendiri. Ada kalanya saya ingin bercerita, tetapi ceritanya tak berharga waktu orang lain – saat itulah saya berbincang dengan diri sendiri. Ketika berbicara dalam hati pun, saya lebih sering menggunakan kata ganti ‘kamu’ daripada ‘saya’. Terutama untuk memotivasi diri sendiri(!). Saya mulai menulis jurnal ini dalam keadaan malas dan sendirian, maka saya menggunakan sudut pandang orang kedua.

Mengapa kamu tidak menulis dengan sudut pandang orang pertama atau ketiga?
Saat menulis jurnal RLWC, saya selalu menulis dengan sudut pandang orang pertama, dan itu mulai membosankan. Lagipula sudut pandang ini kadang-kadang gagal menggambarkan konflik batin seseorang. Sementara itu, sudut pandang orang ketiga, dalam kasus menulis jurnal RLWC, membuat saya berjarak dengan apa yang saya tulis. Padahal saya ada di dalamnya.

Hm. Rumit juga ya? Dan sepertinya kamu sudah capek dan tak ingin menulis lagi. Terakhir deh, apa yang bisa kamu petik dari pengalaman ini?
Ada berbagai sudut pandang untuk melihat dan mengisahkan sebuah peristiwa. Carilah sudut pandang yang membuatmu bisa menuliskan sebanyak mungkin yang ingin kauceritakan.



Andika Budiman adalah seseorang yang tidak pernah mengganti profile picture Facebook-nya.

Kamis, 05 April 2012

Ketika Bulan Menjadi (Teman)ku

Ada cenderamata yang dikirimkan dari Ryan, salah satu peserta RLWC, yang kini sedang mengenyam pendidikan S2 di Southeast University of China. Kami mengunggah karyanya di blog karena blog ini memang terbuka untuk para peserta yang ingin menaruh karyanya. Karya Ryan di bawah ini belum melalui proses edit dan berharap dikomentari:

------

Ketika Bulan Menjadi (Teman)ku

Bunyi deburan ombak di pantai laut selatan terdengar seperti teriakan caci maki dan penolakan, “Kemari-kemarilah,” bunyi deburan ombak menghantam tepi karang. Angin malam bertiup kencang, seperti memelukku, menghapus air-air hangat dalam cucurannya, dan disinilah aku berdiri bersama kekasihku, cintaku, setengah jiwaku.

Cintaku, kita bertemu disaat malam dan selalu berpisah di saat fajar, mungkin takdir yang mengijinkan kita bertemu di hari itu, atau mungkin segala sesuatunya sudah diatur dan tersirat sejak sebelum manusia dapat berjalan di tanah ini, aku tidak tahu, aku tidak mengira-ngira, tapi aku tahu, tidak pernah dapat bersama. Kau dan aku dibatasi oleh ulasan tangan Tuhan, dan perintah-Nya yang menaklukan hamba-hamba-Nya memisahkan semuanya diantara kita berdua.

Ketika langit sudah tidak menjadi penghiburku, kualihkan pandanganku kepada Dajal, sang malaikat maut, dengan harapan membayar kepadanya setengah jiwaku aku dapat memilikimu, dengan setengah jiwaku aku dapat memberikan setengahku disampingmu, tapi singa tetaplah singa walaupun kau dandani singa itu seperti kucing, dajal menerima dan mengambil setengahku lalu dengan tawa disertai telunjuknya mempermalukan aku dihadapan seluruh dunia, memperlihatkan betapa rendah dan menjijikannya diriku. Kukutuk Dajal atas sikapnya kepadaku, kukutuk Tuhan atas suratan takdirnya atas kita, kukutuk malaikat-malaikat yang hanya dapat mengikuti perintah-Nya tanpa dapat menolongku, dan lagi kukutuk diriku sendiri atas menyedihkannya diriku.

Tanganku tidak cukup panjang untuk meraihmu memang, dan kakiku tidak cukup kuat mengejarmu memang, tapi aku tahu hatiku cukup untuk menginginkanmu, tidak cukupkah itu? Ayahanda, mengapa kau biarkan aku menjadi mahluk menyedihkan ini, tidak tahu menahu soal malu dan hormat, hanya cinta mati saja. Ibunda, dimanakah engkau sekarang? Mengapa engkau tidak berada disampingku atau di punggungku, mencoba mendorongku, mendukungku, mencoba mengatakan,”Ibu ada disini nak.” Dimanakah engkau sekarang?

Kini aku tahu aku tidak memiliki seorangpun, aku hanya punya engkau cintaku, bukan, aku hanya punya cintaku kepadamu. Kesetiaan? HA!!! hanyalah kata-kata penuh dengan dusta dan racun, dibuat untuk menghangatkan hati para manusia bodoh, tuli, dan bisu. Cintaku, aku telah mengejarmu sampai menuju gerbang pintu dunia di ujung cakrawala, hanya untuk mengharapkan balasan dari cintaku, dari ungkapan isi hatiku. Kau mempermainkan hatiku , kau memberikanku senyum disertai dengan harapan kosong, dan pergi tanpa melihatku terpuruk di tanah, dan kau tidak memalingkan wajahmu kepadaku, sekalipun tidak.

Disinilah aku, di laut milik ratu selatan, berharap tubuhku bisa menjadi bayaran yang pantas atas permohonanku kepada sang ratu untuk melepas rohku untuk berada disampingmu, penyesalan memang ada, kekecewaan dan kepahitan memang terasa di bibir yang kelu ini, tapi aku ingin tidak menyesal, bersama dengan permintaanku kepada sang ratu, aku ingin berada disana, Hai, Pencuri Hatiku. Hai, Mahluk Malam. Hai, Rembulan. Diamlah di ujung langit malam sana bersama dengan mahluk mungil bercahaya itu, janganlah bersembunyi dibalik kapas langit, tidak perlu malu, tunggulah aku disana, aku hanya tinggal memberikan tubuhku kepada sang ratu dibawah sana, dan jiwaku akan bersamamu, disampingmu selamanya.



Ryan Marhalim, hanyalah mahluk biasa kelahiran 1988, Juli, tahun Naga yang penuh dengan angan-angan belaka yang menjadi salah satu anggota RL dengan harapan setinggi langit, sudah lulus dari Unversitas Kristen Maranatha berlatar belakang jurusan akuntan akan tetapi melarikan diri ke arah sastra. Salah satu latar belakang Ryan menulis adalah karena kesukaannya kepada sastra dan novel, salah satu novelist favoritnya  adalah Pramodya Ananta Toer dengan judul  “Bumi Manusia” sedangkan pengarang luarnya adalah John Grisham, hobinya adalah membaca berbagai macam buku dan silahkan menghadiahi buku-buku seperti filsafat, psikologi, sejarah, dan juga hobi mengarang. Saat ini berada di negeri bambu, tertinggal sendirian dan terlepas dari teman-teman RLnya demi menempuh gelas Master. Tetapi karena kesukaannya kepada sastra Ryan tetap menulis dan akan terus menulis.

Selasa, 03 April 2012

Benang Merah dalam Kumpulan Cerita


Foto oleh Sapta P Soemowidjoko


Hari Sabtu (31/03), 9 peserta writer's circle latihan membuat lima cerita dari satu tema yang dipilih sendiri sebagai benang merah. Konsepnya seperti membuat kumpulan cerpen, namun karena keterbatasan waktu, peserta membuat cerita mini (sepanjang 5-10 kalimat). Misalnya Andika memilih tema "dua orang sedang berdiri di atas trotoar dan menunggu taksi", maka Andika harus membuat 5 cerita dengan variasi karakter, plot, dan setting namun harus mengenai dua orang yang sedang berdiri di atas trotoar dan menunggu taksi.

Latihan semacam ini berguna bagi penulis yang ingin membuat kumpulan flash fiction, cerpen, dan lainnya. Penetapan tema utama sebagai benang merah perlu dilakukan di awal agar penulis tahu apa yang harus ditulis dan kesamaan antar ceritanya jelas. Penetapan tema di akhir dari karya-karya yang sudah selesai biasanya cenderung membuat garis merah yang dipaksakan.

Dialog yang Efektif

Sabtu (24/03), 15 peserta RLWC latihan menulis dialog tentang dua karakter memiliki perbedaan cara pandang dalam suatu masalah sehingga menimbulkan konflik. Dari latihan ini diharapkan dapat membuat dialog yang efektif, membuat dua tokoh terlihat karakternya, namun tetap menyampaikan pesan.

Berikut ini ada contoh dialog yang efektif, dapat menonjolkan karakter dua tokoh yang berbicara, dan tetap menyampaikan pesan. Diambil dari buku Bisik-Bisik oleh Reda Gaudiamo:


...

"Umurmu ... berapa sekarang?"
"Dua puluh lima."
"Masih muda sebetulnya."
"Tapi semua temanku sudah kawin sekarang."
"Kalau teman-temanmu masuk selokan, kau juga buru-buru terjun menemani mereka?"
"Kak!"
"Habis masak kawin karena mengikuti teman. Kau sendiri, memang mau kawin atau tidak?"
"Mau, Kak."
"Kenapa kawin?"
"Daripada dosa, Kak!"
"Kuhajar, kau!"
"Kak!"
"Dengar, kawin itu bukan soal dosa atau tidak dosa. Kawin itu karena kau sudah menemukan orang yang tepat. Karena kau cinta padanya!"

...

"Hei, aku tidak mengada-ada. Kau ingat temanmu, si Basri?"
"Ya, ya, aku ingat."
"Kapan dia kawin? Enam bulan lalu. Kapan cerai dia? Minggu lalu. Macam mana, tuh?"
"Aku tak akan begitu, Kak. Kami tak akan begitu. Janji."
"Jangan janji padaku. Janji pada dirimu. Tetapi sebelum kau bisa penuhi janji itu, kau harus tahu, dengan siapa kau mengikatkan diri."
"Dia gadis baik-baik."
"Aku tidak bilang apa-apa tentang dia."
"Khawatir aku, jangan-jangan Kakak tak suka."
"Aku bukan tak suka. Aku hanya tak senang melihat kalian terburu-buru kawin hanya dengan omongan orang, desakan orang tua, takut dosa. Aku tak tahu apa kata ahli agama, tetapi aku rasa, akan lebih berdosa lagi kalian kalau menikah terburu-buru dan tergesa-gesa bercerai hanya karena tak saling kenal, tak saling cinta."
"Kak, kalau orang tuanya tetap tak mau perkawinan ditunda, bagaimana?"
"Ya, tidak usah kawin!"
"Ampun!"
"Perempuan itu banyak! Melimpah-limpah. Bukan cuma dia seorang di dunia ini."
"Tapi aku ingin kawin. Aku ingin punya istri."
"Punya istri?"
"Lalu apa?"
"Bukan mau punya istri, tapi mau jadi suami."
"Apa bedanya?"
"Banyak."
"Kalau jadi suami, kau jadi pasangannya."
"Kalau punya?"
"Kau jadikan dia barang, milik."

...